MEDAN — Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara (Berkat Kurniawan Laoli) mendesak Presiden Republik Indonesia (Prabowo Subianto) mengambil langkah tegas dan luar biasa dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah daerah diwilayah Sumatera, Riau, dan Kalimantan. Akibatnya, sejumlah daerah khususnya di Provinsi Sumatera Utara, termasuk wilayah Tapanuli dan wilayah Kepulauan Nias turut diselimuti asap yang dikhawatirkan berdampak pada kesehatan masyarakat. Jumat (16/10/2026)

Ia meminta Pemerintah Pusat meningkatkan intensitas penanganan, memperkuat mobilisasi sumber daya, serta mempertimbangkan penetapan status bencana nasional apabila kondisi dan dampak kebakaran memenuhi kriteria yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan.

Berkat Laoli menilai, kebakaran hutan dan lahan tidak boleh diperlakukan sebagai persoalan rutin yang hanya direspons melalui pemadaman terbatas dan koordinasi administratif. Ketika kebakaran meluas, mengancam keselamatan masyarakat, merusak lingkungan, serta menimbulkan kabut asap yang mengganggu kesehatan dan aktivitas ekonomi, negara harus hadir dengan tindakan nyata, cepat, dan terukur.

Menurutnya, Pemerintah pusat harus menunjukkan kepemimpinan yang kuat dalam memastikan seluruh instrumen negara bergerak secara terpadu. Penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan pemerintah daerah, terutama apabila luas kebakaran, tingkat ancaman, dan kebutuhan operasional telah melampaui kapasitas yang tersedia.

“Jangan sampai negara terlihat sibuk melakukan koordinasi, tetapi masyarakat di lapangan masih menghadapi ancaman kebakaran dan kabut asap. Yang dibutuhkan adalah tindakan konkret, dukungan sumber daya yang memadai, serta kepastian bahwa keselamatan rakyat menjadi prioritas utama”, Pungkasnya

Desak Anggaran Penanganan Karhutla Ditingkatkan Signifikan

Berkat Laoli juga menekankan pentingnya peningkatan anggaran penanganan karhutla secara signifikan, proporsional, dan sesuai kebutuhan nyata di lapangan.

Untuk dipahami, Bahwa penanganan kebakaran berskala besar membutuhkan dukungan pembiayaan yang kuat, mulai dari pengerahan personel, pengadaan peralatan pemadaman, dukungan udara, pemantauan titik panas, penyediaan logistik, hingga pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.

“Anggaran juga harus diarahkan pada langkah pencegahan dan kesiapsiagaan, bukan semata-mata digunakan setelah kebakaran meluas. Pemerintah perlu memperkuat sistem deteksi dini, pengawasan kawasan rawan kebakaran, serta kemampuan respons cepat agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap tahun”, Ucapnya

Berkat Laoli mengingatkan bahwa anggaran penanganan bencana harus dipandang sebagai investasi untuk melindungi manusia, lingkungan, dan keberlangsungan ekonomi masyarakat. Keterlambatan penanganan berpotensi memperbesar kerugian, memperluas wilayah terdampak, dan meningkatkan biaya pemulihan.

Status Bencana Nasional Disikapi Serius, Jangan Diabaikan. 

Berkat Laoli mendorong Presiden Prabowo agar tidak menutup kemungkinan penetapan karhutla di sejumlah daerah ditingkatkan ke ranah penegakan Hukum yang tegas kepada korporasi yang melawan hukum.

Penindakan harus dilakukan secara profesional, berdasarkan bukti, dan tanpa pandang bulu. Pemerintah juga perlu mengevaluasi penyebab berulangnya karhutla, termasuk efektivitas pengawasan, kesiapan aparat, koordinasi lintas sektor, serta pelaksanaan kebijakan pencegahan.

Berkat Laoli menegaskan bahwa masyarakat membutuhkan bukti kehadiran negara melalui tindakan yang dapat dirasakan langsung, bukan sekadar pernyataan keprihatinan.

Pemerintah pusat diharapkan segera mengevaluasi kondisi di seluruh wilayah terdampak, memperkuat dukungan anggaran, memastikan ketersediaan peralatan dan personel, serta mengambil keputusan strategis berdasarkan tingkat kedaruratan dan kebutuhan riil di lapangan.

“Ketika kebakaran mengancam kehidupan masyarakat dan merusak lingkungan, negara harus hadir dengan kekuatan penuh sesuai kebutuhan. Jangan menunggu keadaan semakin parah baru bertindak. Keselamatan rakyat, perlindungan lingkungan, dan penanganan yang efektif harus menjadi prioritas”, Tutup Berkat Laoli