MEDAN – Olahraga tidak lagi hanya dimaknai sebagai upaya menjaga kesehatan. Bagi Generasi Z Indonesia, lari pagi, gym, padel, hingga pilates telah bergeser menjadi ruang sosial, penanda identitas, dan sarana membangun komunitas.

Survei terhadap kelompok usia 18–29 tahun menunjukkan hanya 17 persen Gen Z yang masih tertarik pada aktivitas minum-minum dan gaya hidup malam. Sebaliknya, 43 persen lebih tertarik pada kesehatan dan kebugaran. Sebanyak 27 persen responden menyebut kebugaran sebagai bagian penting dari identitas diri, dan 35 persen mengaku aktif menjaga kebugaran tubuh.

Pergeseran itu terlihat dari perubahan cara anak muda membangun relasi. Jika sebelumnya kecocokan sosial terbentuk lewat kegiatan minum bersama, kini sesi olahraga bersama mengambil peran tersebut. Olahraga menjadi ruang baru untuk terhubung sekaligus menjaga kualitas hidup jangka panjang.

Aktivitas lari menjadi salah satu gaya hidup yang paling digemari. Komunitas lari rutin menggelar latihan bersama, berbagi pengalaman, dan saling memotivasi mencapai target kebugaran.

Salah seorang anggota komunitas lari di Palu, Vee Djawas, mengatakan bergabung dengan komunitas membuatnya punya banyak teman baru dan lebih disiplin menjalani hidup sehat.

Media sosial memperkuat dimensi identitas itu. Survei GenVoice 2025 mencatat 69 persen Gen Z di Indonesia lebih sering membagikan kegiatan lari di media sosial.

Padel dan pilates juga mengalami lonjakan popularitas karena menawarkan pengalaman berbeda. Pilates berfokus pada kontrol tubuh, kekuatan inti, dan fleksibilitas, sementara padel menggabungkan aktivitas fisik dengan permainan dan interaksi sosial.

Padel dimainkan secara ganda sehingga terasa lebih santai dan bersifat sosial. Jumlah klub padel di Indonesia tercatat meningkat 295 persen dalam satu tahun. Pada 2025, lebih dari 1.580 lapangan baru dibangun, dengan dominasi di area metropolitan Jabodetabek sekitar 40 persen dan Bali.

Gym pun tidak lagi sekadar tempat mengangkat beban. Ia menjadi ruang aktualisasi diri, pembentuk identitas, dan bagian dari personal branding. Komunitas fitness menjadi ruang sosial yang membentuk nilai, norma, dan identitas generasi muda. Survei Populix terhadap 840 pekerja profesional di Indonesia mengonfirmasi dimensi sosial itu.

Sebanyak 60 persen responden berolahraga untuk me time, 53 persen menjadikannya quality time bersama pasangan atau keluarga, dan 40 persen memanfaatkannya untuk membangun relasi serta jejaring profesional. Setelah berolahraga, 39 persen responden memilih nongkrong atau ngopi, sementara 37 persen makan bersama teman atau komunitas.

“Olahraga sekarang bukan cuma soal kesehatan fisik, tapi juga jadi ruang sosial,” kata Quantitative Research Manager Populix, Retno Gumelar.

Di balik euforia itu, muncul peringatan. Olahraga yang bergeser dari praktik kesehatan menjadi praktik sosial berisiko melahirkan fenomena fear of missing out. Tidak sedikit orang memulai hobi berolahraga bukan karena kebutuhan tubuh, melainkan dorongan tren.

Untuk sebagian kalangan, pakaian lari premium dan perlengkapan mahal justru mengirimkan pesan gaya hidup kelas atas alih-alih pesan kesehatan. Namun bagi mayoritas Gen Z, olahraga telah menjadi bagian dari identitas dan cara mereka menjalani kehidupan. (RS)