Jeka Saragih Bangun PSSC, Wujudkan Mimpi Atlet Muda Simalungun Menuju Prestasi

News55 Dilihat

SIMALUNGUN – Atlet Mixed Martial Arts (MMA) kebanggaan Indonesia, Jeka Saragih, kembali menjadi sorotan publik. Tak hanya karena kiprahnya di pentas bela diri internasional, tetapi juga atas kepeduliannya dalam membangun olahraga di kampung halamannya, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Setelah sebelumnya mendapat apresiasi dari Bobby Nasution atas aksi sosial membangun akses jalan bagi masyarakat, Jeka kini melanjutkan misinya dengan memperkuat pembinaan atlet muda melalui penyediaan sarana latihan di sejumlah wilayah di Simalungun.

Melalui komunitas yang ia dirikan, Patunggung Simalungun Siantar Club (PSSC), Jeka terus mengembangkan pembinaan atlet bela diri di berbagai desa dan kecamatan. Lokasi terbaru yang menjadi pusat pembinaan berada di Tiga Runggu, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Jeka menyerahkan bantuan matras latihan kepada para atlet di Tiga Runggu agar mereka memiliki fasilitas yang lebih layak dalam menjalani latihan sehari-hari.

BACA JUGA :  Ribuan Masyarakat Asahan Antusias Ikuti Kegiatan Ganjar Pranowo

“Tiga Runggu menjadi desa terakhir yang kami jajaki. Sambil mempersiapkan diri menghadapi pertandingan BYON melawan petarung dari Malaysia, saya juga ingin memastikan adik-adik atlet di sini memiliki tempat latihan yang baik,” ujar Jeka.

Saat ini, jaringan pembinaan PSSC telah berkembang di sejumlah daerah, antara lain PSSC Perdagangan, PSSC Panei Tongah, PSSC Saribu Dolok, PSSC Siantar, serta PSSC Tiga Runggu.

Menurut Jeka, pembangunan fasilitas olahraga merupakan investasi jangka panjang untuk melahirkan atlet-atlet berprestasi dari daerah.

“Langkah pemberian fasilitas olahraga ini kami lakukan agar para atlet siap menghadapi berbagai event olahraga. Potensi atlet Simalungun sangat besar dan harus didukung dengan fasilitas yang memadai,” katanya.

BACA JUGA :  Demi keselamatan, KAI Sumut tutup 49 perlintasan sebidang

Di tengah berbagai keluhan mengenai masih minimnya perhatian terhadap sebagian atlet daerah, Jeka memilih untuk tetap fokus memberikan kontribusi nyata dibanding larut dalam polemik.

“Saya pernah berada di posisi mereka. Karena itu saya ingin para atlet tidak merasa dikucilkan atau kehilangan rasa percaya diri hanya karena keterbatasan fasilitas. Saya ingin mereka tetap bermimpi besar dan berani mengejar prestasi,” tegasnya.

Perjalanan karier Jeka Saragih sendiri menjadi inspirasi bagi banyak atlet Indonesia. Petarung asal Simalungun itu mengawali karier dari kompetisi nasional sebelum mencuri perhatian melalui ajang One Pride MMA.

Namanya semakin dikenal setelah menjuarai turnamen Road to UFC, sebuah pencapaian yang mengantarkannya menandatangani kontrak dengan organisasi bela diri terbesar dunia, Ultimate Fighting Championship (UFC).

Jeka pun tercatat sebagai salah satu petarung Indonesia pertama yang tampil di UFC, membuka jalan bagi atlet-atlet Tanah Air untuk bersaing di level internasional.

BACA JUGA :  Perkara Sabu 4 Kg, JPU Kejati Sumut Cuma Tuntut Deri Juliandra 13 Tahun Penjara

Di sela aktivitas pembinaan atlet muda, Jeka juga tengah mempersiapkan diri menghadapi laga berikutnya di ajang BYON Combat, di mana ia dijadwalkan menghadapi petarung asal Malaysia.

Duel tersebut dipandang sebagai momentum penting bagi Jeka untuk kembali menunjukkan kualitasnya sekaligus menjaga peluang memperoleh pertandingan-pertandingan yang lebih besar pada level internasional.

Informasi mengenai laga tersebut telah menjadi perhatian sejumlah media nasional dan penggemar MMA di Indonesia.

Melalui langkah-langkah yang dilakukannya, Jeka Saragih menunjukkan bahwa prestasi tidak hanya diukur dari kemenangan di arena pertandingan, tetapi juga dari kontribusi nyata dalam membangun generasi muda dan memajukan olahraga di daerah asalnya. (Red)