BAHIS, Gerakan Hijau Berbasis Kearifan Lokal Siap Tantang Krisis Lingkungan

News17 Dilihat

MEDAN – Di tengah tekanan deforestasi, krisis iklim, dan ancaman terhadap pangan serta energi, sebuah inisiatif baru muncul dari Medan, Sumatera Utara. Dewan Pimpinan Pusat Bentangan Alam Hijau Indonesia (BAHIS) resmi merumuskan struktur kepengurusan di bawah Ketua Umum dr. T. Amri Fadli, MKes menandai dimulainya langkah serius dalam memperkuat gerakan lingkungan berbasis lokal.

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan hayati terbesar di dunia. Namun, potensi ini kian tergerus oleh berbagai krisis ekologis. BAHIS menawarkan pendekatan yang berbeda mengangkat kembali kearifan lokal masyarakat adat sebagai fondasi utama pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Namun, BAHIS tak datang tanpa solusi. Mereka menyoroti sebuah aset tak ternilai yang sering terabaikan kearifan lokal masyarakat adat. Nilai-nilai luhur ini, yang telah terbukti menjaga harmoni manusia dan alam selama berabad-abad, kini diangkat sebagai fondasi utama dalam visi BAHIS.

Ketua Dewan Pengawas Bahis, H Ruslan, SH menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan satu lembaga lingkungan untuk membantu pemerintah terkait lingkungan alam dan lain sebagainya.

“Kita perlu satu lembaga lingkungan, yang kita buat namanya itu BAHIS (Bentangan Alam Hijau Indonesia), membantu pemerintah dalam hal terkait lingkungan alam dan lain sebagainya,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (7/5/2026).

BACA JUGA :  Peringatan Nuzulul Qur'an, Bobby Nasution: Jadikan Ramadhan Sebulan Penuh Sebagai Tempat Menempa Diri

Ia juga menjelaskan bahwa Indonesia memiliki bentangan alam yang sangat luas dan didalamnya ada sesuatu yang perlu diberdayakan, dikembangkan secara nasional maupun internasional.

“Seperti karbon yang untuk masa depan, dunia internasional akan ketergantungan hal itu. Jadi harapan kita nantinya kawan-kawan yang memang satu barisan sama kita, untuk di lembaga lingkungan ini, kita saling support, saling sharing, saling diskusi bagaimana lembaga kita ini bisa berperan di dalam hal terkait lingkungan, terkait alam yang ada di Indonesia,” ucapnya.

Ia berharap dengan munculnya BAHIS akan bermanfaat untuk negara dan ia juga menegaskan bahwa orang-orang yang tergabung dalam BAHIS adalah orang yang berkompeten.

“Orang-orang yang duduk di BAHIS ini sudah yang berkompeten dan punya integritas dan punya wawasan untuk bagaimana bisa memajukan BAHIS ini, untuk menjadi satu lembaga lingkungan yang maju berkembang dan berperan di tengah masyarakat khususnya di Indonesia,” harap Ruslan mengakhiri.

BACA JUGA :  Terkuak di Sidang, 2 Saksi Sebut TSO Tidak Pernah Diberitahu Soal Observasi dan Plt Bupati Palas

Organisasi ini bukan sekadar perkumpulan, melainkan wadah kolaboratif yang didesain untuk menjawab agenda pembangunan nasional, termasuk pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) dan visi Indonesia Emas. Dengan misi yang ambisius, BAHIS bertekad mendorong pengelolaan SDA yang berkeadilan, menguatkan peran masyarakat adat, mengembangkan riset inovatif di bidang energi terbarukan dan pangan, hingga mengadvokasi kebijakan pro-lingkungan.

Fokus kegiatan BAHIS sangat strategis, meliputi transisi energi bersih, mitigasi perubahan iklim, ketahanan pangan berbasis lokal, pengendalian deforestasi, restorasi ekosistem pesisir seperti mangrove, hingga dekarbonisasi di berbagai sektor. Mereka tidak hanya berjanji, tetapi juga mengedepankan aksi nyata di lapangan yang berkelanjutan, didukung riset data dan kolaborasi erat dengan pemerintah, swasta, akademisi, dan komunitas.

Dengan semangat gotong royong, BAHIS diharapkan menjadi katalisator perubahan, menjembatani pembangunan dengan kelestarian lingkungan. Ini adalah panggilan untuk Indonesia yang lebih hijau, lebih tangguh, dan lebih sejahtera, dimulai dari bumi Sumatera Utara.

“Kami ingin menghadirkan Indonesia yang hijau, tangguh, dan sejahtera melalui pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, berbasis kearifan lokal dan kolaborasi lintas sektor,” ujar dr. T. Amri Fadli, MKes

BACA JUGA :  Gubernur Sumut Bobby Nasution Sebut Moria GBKP Berperan Dukung Program Kerja Pemerintah

BAHIS memposisikan diri bukan sekadar organisasi, tetapi sebagai ruang kolaborasi untuk menjawab agenda strategis nasional—mulai dari target Sustainable Development Goals (SDGs) hingga visi Indonesia Emas. Misi yang diusung mencakup pengelolaan sumber daya alam yang berkeadilan, penguatan peran masyarakat adat, pengembangan riset energi terbarukan dan pangan, serta advokasi kebijakan yang berpihak pada lingkungan.

Fokus gerakan BAHIS mencakup isu-isu krusial: transisi energi bersih, mitigasi perubahan iklim, ketahanan pangan berbasis lokal, pengendalian deforestasi, hingga restorasi ekosistem pesisir seperti mangrove. Upaya dekarbonisasi lintas sektor juga menjadi bagian dari agenda strategis mereka.

Lebih dari sekadar wacana, BAHIS menekankan aksi nyata berbasis data dan riset, dengan menggandeng pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan komunitas. Semangat gotong royong menjadi kunci pendekatan mereka.

Kehadiran BAHIS diharapkan menjadi katalis perubahan, menjembatani pembangunan dengan pelestarian lingkungan. Dari Medan, pesan itu digaungkan: masa depan Indonesia yang hijau dimulai dari langkah nyata hari ini. (Red)