BMKG Kerja Sama OceanX Lakukan Ekspedisi Fenomena Gempa

Nasional, News107 Dilihat

JAKARTA – Menyempurnakan model gempa bumi dan tsunami di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sedang mempersiapkan ekspedisi untuk menyelidiki fenomena kegempaan yang terjadi di zona megatrust di Indonesia.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengungkapkan bahwa penelitian ini dilakukan sebagai bagian dari upaya penelitian dan pendataan yang dilakukan oleh BMKG dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

“Segala sesuatunya sudah mulai kami persiapkan, Pusat Penelitian, Latihan dan Pengembangan untuk menyempurnakan model gempa bumi dan tsunami kita,” ujarnya dikutip dari Antara, Minggu (19/5/2024).

BACA JUGA :  URC GAS 3C Polrestabes Medan Gencar Patroli Malam Antisipasi Kejahatan Jalanan

Ekspedisi ini akan meneliti setiap zona megatrust yang ada di Indonesia, termasuk Subduksi Sunda, Subduksi Banda, Subduksi Sulawesi, Subduksi Lempeng Laut Filipina, Lempeng Laut Maluku, dan Subduksi Utara Papua.

Sementara itu Kepala Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramadhani, menjelaskan bahwa ekspedisi akan dimulai di Batam, Kepulauan Riau, dan berakhir di Bitung, Sulawesi Utara pada tanggal 25 Agustus 2024.

Untuk melaksanakan ekspedisi ini, BMKG bekerja sama dengan OceanX, sebuah organisasi non-profit global yang bergerak dalam bidang eksplorasi laut. OceanX bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarves) untuk meneliti laut Indonesia.

BACA JUGA :  Pemko Medan Musnahkan 4.259 Arsip yang berusia dibawah 10 Tahun

Selain meneliti fenomena kegempaan, ekspedisi ini juga akan mengamati interaksi antara udara dan laut di perairan Indonesia. Penelitian akan difokuskan pada wilayah yang mempengaruhi variabilitas cuaca dan iklim Indonesia, seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) dan ocean dipole di laut Banda, Selatan Jawa, dan Barat Sumatera.

BMKG menganggap penelitian ini sangat penting karena perubahan sirkulasi udara dan lautan secara alami serta faktor lainnya dapat mempengaruhi variabilitas iklim. Menteri Luhut Binsar Pandjaitan juga mengungkapkan bahwa baru 19 persen laut Indonesia yang telah dipetakan, padahal garis pantai Indonesia mencapai 108 ribu kilometer dan lebih dari 70 persen luas Indonesia adalah perairan.

BACA JUGA :  Operasi Patuh Toba 2023, Satlantas Bagikan Brosur dan Sticker kepada Pengguna Jalan

BMKG telah menyelesaikan persiapan tim dan membawa peralatan yang diperlukan untuk mengukur parameter-parameter yang relevan. Mereka terus berkoordinasi dengan Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi sebagai leading sektor dalam ekspedisi ini. (Red)